PEMBANGUNAN

CIRI GPIAI EFATA

PEMBANGUNAN GEDUNG GPIAI EFATA SALATIGA

Sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam. (HagaI 2:6-10)

Firman Tuhan yang diungkapkan oleh Nabi Hagai di atas menjadi api penyulut dan pembakar semangat dan iman untuk berjuang dalam diri Bapak dan  Ibu gembala siding, Majelis, pengurus dan segenap warga jemaat Gereja Pantekosta Isa Almasih Indonesia EFATA Jalan Brigjend Sudiarto 1A, Salatiga untuk menyatakan tekad menerabas batas, membabat hambatan, membuang penghalang, membelah celah untuk merealisasikan mimpi dan mewujudkan visi misi merenovasi gedung gereja yang sudah berusia 30 tahun.

Eksistensi gedung gereja Jalan Brigjend Sudiarto 1A Salatiga tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan Pendeta Surya Kusuma sebagai Pendeta, Gembala Sidang Gereja Isa Almasih yang ditahbiskan oleh Pendeta Darmowiyono pada tanggal 19 September 1977 di Jalan Kalisombo No 2 Salatiga. Pendeta Surya Kusuma hadir di Kota Salatiga pada tanggal 19 September 1976 dari GIA Tamansari VIII Jakarta menggantikan Pendeta Tjondro Subianto yang mengundurkan diri.

Pada tahun 1977 muncullah visi misi dalam diri gembala sidang untuk membeli dan mencari tanah yang strategis guna dibangun gedung gereja yang permanen. Visi misi in muncul dan berkembang karena jemaat yang terus bertumbuh dan rumah ibadah (bekas gudang tembakau) di Kalisombo no 2 kurang representative bagi pertumbuhan gereja dimasa depan.

Akhirnya sekitar bulan Oktober 1977 di dapatkan tanah di Jalan Brigjend. Sudiarto milik Raden Ayu Saparinten Rekso Hadi Prodjo isteri dari Soewarso Kartodinoto seorang penghayat kepercayaan kebatinan. Tanpa dana di kas gereja untuk pembelian dan pembangunan gereja, gembala sidang dihantar oleh almarhum Bapak Yusuf Budiono menjumpai pemilih tanah. Berkat rahmat kasih karunia Allah Bapa, Kepala Gereja Tuhan Yesus dan Allah Roh Kudus, hati romo Soewarso Kartodinoto digetarkan dengan perasaan simpati untuk menjual tanah HM no 412 seluas 478 M2 di Jalan Brigjend Sudiarto desa kalicacing seharga Rp 3.300.000,- dengan waktu pembayaran 3 bulan kepada Pendeta Surya Kusuma dengan tambahan 10% tiap bulan apabila tidak dapat melunasinya dalam jangka waktu tersebut di atas.  Di dukung oleh + 50 warga jemaat (sebagian besar mahasiswa UKSW) diadakan gerekan doa puasa dan pencarian dana untuk pembayaran pembelian tanah tersebut. Walaupun ada keresahan warga jemaat selama 3 bulan menggumuli pembayaran tanah sehingga muncul suara sumbang dari seorang warga jemaat melewati ungkapan : “Kalau tidak bisa membayar, biarlah dengkul (lutut) pendeta Surya kusuma dipakai melunasi pembayaran tanah.” Namun Sang Kepala Gereja Tuhan Yesus Kristus menggerakkan hati Bapak Sam Daniel (yang telah dipanggil ke rumah Tuhan) seorang warga jemaat GIA pegangsaan Jakarta untuk mempersembahkan dana sebesar Rp 1.500.000,- bagi keperluan pelunasan tanah. Akhirnya pembelian tanah dapat dilunasi melewati berbagai mukjizat yang luar biasa sehingga tidak mempermalukan nama Tuhan Yesus di mata seorang penghayat kepercayaan. Dan selanjutnya pada tanggal 26 Januari 1978 dilaksanakan jual beli di hadapan Ny E. L. Mata PPAT / Notaris di Salatiga.

Periode pembelian tanah dapat berlangsung mulus dan tibalah masa pembayaran gedung gereja. Setelah rehat beberapa waktu untuk mempersiapkan hati sidang jemaat bagi pembangunan gedung gereja dan mendapatkan gambar gedung gereja dari Ir. Gunawan Karta Miharja, warga jemaat GIA Bandung. Setelah menerima blue print gereja maka pengurusan ijin ke PEMKOT Salatiga dilaksanakan. Tanpa melewati prosedur yang berbelit, dengan cara yang amat mudah bahkan bebas biaya apapun, Walikota Madya Dati II Kota Salatiga Bapak S Ragil Pudjono menerbitkan SK IMB No. 134/KEPDA/Bang/1978 tertanggal 9 Agustus 1978. Dengan adanya IMB tersebut pembangunan gedung segera digulirkan dan bisa diselesaikan dan diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1979. Pembangunan gedung gereja Brigjend. Sudiarto dari awal sampai akhir selama + 1,5 tahun bisa dilaksanakan sesuai dengan pernyataan raja Salomo dalam Mazmur 127:1,  Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.

Dalam periode ini Tuhan Yesus kepala Gereja menyediakan malaikat-malaikat pendamping, penolong dan penunjang kepada bapak gembala siding untuk membangun gedung gereja Jalan Bridjend Sudiarto 1A salatiga, diantaranya adalah:

1)      Alm. Bapak Luwandono

2)      Alm. Bapak Yusuf Budinono

3)      Alm Bapak Eko Gunawan

Namun amat disayangkan bahwa gereja yang terus bertumbuh kembang baik di gereja local maupun 24 Pos PI disekitar Salatiga harus terhenti beberapa saat karena ada perbedaan sudut pandang dengan Sinode GIA perihal Yayasan Sosial Victory yang puncaknya pada tanggal 9 Mei 1985 Sinode GIA menyatakan bahwa jemaat GIA Salatiga mengundurkan diri dari Sinode GIA sehingga sejak tanggal tersebut Gereja di Jalan Brigjend. Sudiarto 1A berubah nama menjadi Gereja Pantekosta Isa Almasih Indonesia yang kemudian atas binaan Dirjen Bimas Kristen Protestan Departemen Agama RI pada tanggal 22 Agustus 1987 dengan SK No 86 tahun 1987 mengesahkan GPIA badan hukum menjadi Gereja Pantekosta Isa Almasih Indonesia yang berpusat di Bogor, sedangkan yang di Salatiga tetap memakai gedung Gereja di Jalan Brigjend Sudiarto. Bukan hanya warga jemaatnya saja yang bertumbuh kembang, bangunan fisikpun mengalami perubahan dengan diadakannya pemugaran gedung gereja. melewati ijin IMB yang dikeluarkan oleh Walikota Madia DATI II Salatiga Bapak Indro Suparno dengan No 5031/155/1995 pada tanggal 18 Desember 1995.  Berkali-kali perbaikan dan pemugaran diadakan sesuai dengan pertumbuhan warga jemaat dan kebutuhan kondisi bangunan.

Akhirnya visi misi untuk memugar gedung gereja secara total mencuat secara tiba-tiba dalam rapat majelis gereja tertanggal 20 April 1998 di rumah Keluarga Bapak Andreas Jarot Gunadi. Visi misi pemugaran gedung gereja yang mencuat tersebut bagaikan bola salju yang menggelinding dari ketinggian. Dari bola salju kecil kemudian meluncur menjadi bola salju yagn semakin lama semakin besar. Visi itu telah membawa seluruh warga jemaat untuk terlibat dalam aksi tersebut setelah bapak gembala sidang memberitakan kepada warga jemaat pada tanggal 27 April 2008 di kebaktian pagi dan sore. Didahului dengan konfirmasi Illahi yang menyatakan bahwa renovasi tersebut sesuai dengan kehendak Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, maka Sang Kepala Gereja telah mengutus keluarga Wibowo dari Semarang yang bukan anggota GPIAI EFATA dan tidak tahu menahu tentang program renovasi total datang ke rumah gembala sidang  di Jalan Nakula Sadewa IV/1 Kembang Arum untuk menyerahkan persembahan bagi pekerjaan Tuhan sebesar Rp 5.000.000,- yang diterima oleh ibu gembala sidang, Pdt Nella Kusuma. Persembahan tersebut telah menjadi persembahan sulung bagi renovasi gedung gereja. Tanggal 4 Mei 2008 seluruh warga jemaat telah memberikan persembahan yang pertama bagi pembangunan gedung gereja dan memberikan pernyataan janji iman untuk berkorban bagi keperluan pemugaran dari bulan Mei 2008 sampai dengan Mei 2009.

Tanggal 3 Juni 2008 diadakan kebaktian khusus untuk menawalinya. Selanjutnya pengurusan izin bangunan dilaksanakan. Sambil menunggu ijin bangunan keluar maka pembelian material dan dan pembenahan untuk pelaksanaan pembangunan. Pembangunan dimulai tanggal 19 Juni  2008 dan akhirnya IMB diterbitkan oleh Pemkot Salatiga yang diwakili oleh Ibu Hj. Niken Lidiastuti dengan IMB No. 5031/195/2008 tertanggal 09 Juli 2008. Terbitnya SK IMB tersebut menandai pemugaran secara resmi dilaksanakan.

Seluruh majelis Gereja dan pengurus komisi serta PIKAT meminta gembala siding memimpin langsung visi misi pembangunan gereja dengan pola pikir bahwa di dalam penggembalaan kebersamaan dan kesediaan berkorban seluruh jemaat akan dapat terus terbina dal dikobarkan. Pola berfiir kebersamaan tersebut telah memunculkan tekad seluruh warga jemaat untuk terus memakai gedung gereja Jalan Brigjend. Sudiarto 1A sebagai tempat beribadah. Melalui rapat majelis di rumah Keluarga Bapak Yoseph Cahyono para Majelis  memilih satu diantara 3 orang ahli dalam bidang pembangunan yaitu Sdr. Markus, Sdr. Andreas dan Sdr. Dedy Martono, dan pada akhirnya secara bulat disepakati untuk menyerahkan renovasi gedung gereja kepada Sdr. Dedy Martono. ST., MT. Adapun gambar bangunan gereja ditentukan melewati rapat majelis dan beberapa orang warga jemaat di rumah Bapak Roes Subiyanto. Ada beberapa yang menjadi pilihan. Setelah yang hadir menentukan pilihan melewati adu argumentasi yang cukup seru pada akhirnya memastikan pilihan sebagaimana wujud yang sekarang ini terbangun. Akhirnya pemugaran dapat diselesaikan pada awal Februari 2009 dan diresmikan pada tanggal 09 Maret 2009.

Menilik perjalanan sejarah gereja Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga sejak berdirinya sampai keluarnya ijin renovasi, gedung gereja Brigjend Sudiarto 1A berusia 30 tahun kurang 1 bulan (09 Agustus  1978 s.d. 09 Juli 2008) memiliki banyak hal istimewa yang perlu menjadi perenungan, yaitu:

  1. Angka 9 selalu membayangi perjalanan sejarah Gereja Brigjend. Sudiarto 1A, sebagaimana terungkap di bawah ini:
  • 9 Agustus 1978 Walikota Madya DATI II Salatiga S Ragil Pudjono menerbitkan IMB
  • 9 Maret 1985 warga jemaat di Gereja Brigjend. Sudiarto melewati surat dari Sekum Sinode, Pdt. Yahya Sutandi dinyatakan mengundurkan diri dari
  • 09 Juli 2008 Ibu Hj Niken Lidiastuti menerbitkan SK IMB renovasi gedung gereja
  1. Kesamaan Nomor IMB renovasi gedung gereja

Walikota madya DATI II Bapak Indro Suparno yang masa jabatannya terpaut 13 tahun dengan Ibu Hj Niken Lidiastuti sebagai kepala Badan Penanaman Modal dan Perkembangan Usaha Daerah Kota Salatiga menerbitkan IMB dengan nomor yang sama yaitu 503.1.

  • Bapak Indro Suparno bernomor IMB 503.1/155/1995
  • Ibu Niken Lidiastuti 503.1/195/2008

Apakah ini semua hanya kebetulan?

  1. Sebagaimana Tuhan Yesus telah mengubah petros sebuah batu kecil menjadi Petra (Matius 16:18; 1 Korintus 10:4) demikianlah Sang Kepala Gereja telah menggubah jemaat kecil GPIAI EFATA Salatiga memiliki kemampuan yang dahsyat karena dari biaya 1,4 milyard warga jemaat mampu berswadaya 90% dan emgnerjakannya dalam kurun waktu 7 bulan dan tanpa ada bantuan dari luar negeri serupiah pun.
  2. Semangat kebersamaan dalam keyainan kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus, disertai tekad yang kuat untuk beribadah serta adanya militansi kesediaan berkorban dan digembalan oleh seorang gembala membuat warga jemaat GPIAI EFATA menihilkan kemustahilan, menjadikan segala kesukaran sebagai akar pembakar dan pengobar bara api illahi yagn ada dalam hati semua lapisan warga jemaat untuk berhasil mewujudkan visi misi merenovasi gedung gereja
  3. Kado istimewa dalam pelaksanaan pembangunan adalah juga diterbitkannya Keputusan Dirjen Bimas Kristen Departemen Agama RI tentang pendaftaran ulang GPIAI. SK No DJ. III/Kep/HK.00.5/257/2008.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: