PENGGEMBALAAN PL

Panggilan pelayanan sebagai seorang gembala merupakan salah satu panggilan Allah yang bersifat khusus. Gembala harus menguatkan umat yang lemah, mengobati yang sakit, membalut yang terluka, membawa pulang yang tersesat dan mencari yang terhilang (Yeh. 34:4).

2.1.            Pemahaman Mengenai Panggilan Pelayanan Penggembalaan

Mengkaji mengenai panggilan Allah, maka dapatlah dikatakan bahwa Allah memanggil secara umum untuk semua orang supaya percaya kepadaNya (I Kor. 1:9), namun dilain pihak, Allah juga memanggil orang-orang tertentu yang dikehendakiNya untuk tugas yang akan diberikanNya. Dalam hal ini konsep panggilan khusus tidak berlaku untuk semua orang Kristen. Secara khusus Allah memanggil baik rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita Injil, gembala-gembala maupun para pengajar (Ef. 4 : 11, 12) untuk melaksanakan tugas yang diberikan Tuhan Allah. Agar lebih memahami mengenai panggilan pelayanan penggembalaan umat Tuhan, maka berikut sorotan Alkitab mengenai bagian tersebut.

2.1.1.   Panggilan Pelayanan Penggembalaan Menurut Perjanjian Lama

“Gembala dalam bahasa Ibrani adalah ro`eh. kata ini berasal dari kata ra`a yang berarti makan rumput atau padang rumput, menggembalakan dan melindungi”1. Berkaitan dengan hal ini, maka gembala menurut Perjanjian Lama, tak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan padang rumput yang tersedia untuk domba-dombanya. Ia harus membina, mengasuh, mengarahkan bahkan menyediakan cukup makanan dan rasa aman bagi umat yang digembalakan. Dalam kaitan ini, Perjanjian Lama memberi penjelasan mengenai tokoh-tokoh yang dipanggil Allah dan diberi jabatan khusus untuk menjalankan fungsi-fungsi penggembalaan melalui berbagai bentuk. Jabatan-jabatan yang dimaksud antaralain:

2.1.1.1. Panggilan Sebagai Nabi.

“Navi adalah kata Ibrani untuk seorang Nabi, artinya orang yang dipanggil secara khusus untuk berbicara kepada manusia atas nama Tuhan Allah . Kata benda untuk nabi adalah ro`eh artinya pelihat”2. Tugas seorang nabi adalah menyampaikan kehendak Tuhan kepada umat. Nabi memiliki tanggungjawab untuk mengungkap rahasia-rahasia ilahi yang hendak dinyatakan Allah kepada umat. Kemampuan khusus tersebut mencakup menerima mimpi, penglihatan dan penyataan-penyataan Allah yang harus disampaikan kepada umat. Nabi Amos bernubuat di kuil Betel mengenai kematian Yerobeam (Amos 7:10,11), nabi Yeremia bernubuat di Yerusalem mengenai perihal moral yang harus dimiliki umat bila menghendaki kehadiran Allah di baitNya (Yer. 7:1-7). Nabi Yesaya bernubuat mengenai Mesias kepada raja Ahas, sewaktu Ahas memeriksa seluruh air di luar kota Yerusalem (Yes. pasal 7). Nabi harus bisa berperan sebagai pendoa syafaat. Abraham dikenal sebagai nabi (Kej. 20:7-10). Nabi Samuel berkata “mengenai Aku, jauhlah daripadaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu” (I Sam. 12:23). Berdasarkan paparan di atas, maka dapatlah dipahami bahwa fungsi penggembalaan atas umat Tuhan juga dilaksanakan oleh seorang nabi.

2.1.1.2. Panggilan Sebagai Imam.

Imam dalam Bahasa Ibrani adalah kohen. Imam harus bisa masuk dalam tempat kudus bait Allah dan menerima pesan Allah untuk umat (Kel. 28 : 29, 30). “Imam bertugas memimpin ibadah dalam umat dan juga menyampaikan doa-doa permohonan umat secara khusus, menyimpan kitab Torah, menyiapkan korban yang hendak dikorbankan kepada Tuhan baik korban ucapan syukur maupun korban-korban lainnya. Imam juga harus bisa memberi pernyataan najis atau tidaknya seseorang (Im. 13 : 6). Seorang imam harus memahami berbagai hal, sehingga dapat menuntun umat untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya kepada Tuhan”3. Peran sebagai penerima pesan Tuhan dan juga penyampai permohonan umat merupakan bentuk nyata tanggungjawab penggembalaan bagi umat Allah. Peran imam yang sedemikian bertujuan untuk membina dan memelihara umat baik secara rohani dan jasmani. Secara rohani, umat Tuhan terus menjalin persekutuan dengan Tuhan Allah dan dengan demikian, hubungan yang baik dengan Tuhan Allah akan membawa dampak yang positif dalam peningkatan jalinan hubungan yang baik dengan sesama manusia. Sementara dalam Perjanjian Baru, jabatan imam tidak seperti dalam Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Lama, Imam berperan sebagai perantara. Imam membawa permohonan umat kepada Tuhan dan menerima pesan Tuhan untuk umat, Imam yang berhak mempersembahkan korban. Dalam Perjanjian Baru, melalui kehadiran Kristus selaku Imam Besar, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis demi penyelamatan manusia (Ibrani 2 : 17). Kristus sebagai Imam Agung (Ibrani 4:14), telah membawa suatu anugerah bagi orang-orang yang percaya kepadaNya untuk langsung menyampaikan permohonan dan korban ucapan syukur kepada Allah. Orang yang sudah percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, maka ia disebut sebagai imamat rajani (I Pet. 2 : 9) dan memperoleh kesempatan dan penuh keberanian untuk menghampiri tahta kasih karunia serta menerima anugerah dari Tuhan Allah dan memperoleh pertolongan tepat pada waktunya (Ibrani 4 : 14 – 16).

2.1.1.3. Panggilan Sebagai Hakim.

“Hakim dalam bahasa Ibrani adalah syofet yang berarti seseorang yang menegakkan keadilan dan kebenaran. Ia harus bisa memberi hukuman kepada orang yang salah dan membenarkan orang yang benar. Ia tidak berhak untuk memihak dan menentang kebenaran”4. Fungsi penggembalaan tetap dilaksanakan oleh hakim. Sebagai bukti tanggungjawab penggembalaan, maka ia selalu hadir dalam setiap pertemuan ibadah umat Israel (Yos. 8:33; 24:1). Ia harus bersama-sama para Imam dalam memberi keputusan-keputusan yang penting mengenai perkara umat (Ulangan 17 : 8, 9). Hakim juga diberi kewajiban untuk mengajarkan hukum-hukum yang ditetapkan Allah kepada umat (Ezra 7 : 25). Bahkan ia disebut sebagai penyelamat bagi umat Israel sewaktu menghadapi musuh (Ezra 2 : 16). Kehadirannya sebagai penegak kebenaran dan tidak memihak pada pihak penentang kebenaran, akan membawa suasana keadilan yang dapat dihadirkan di tengah-tengah umat Tuhan.  Perjanjian Baru memunculkan konsep yang baru mengenai hakim. Hanyalah Kristus hakim yang adil. Ia pemilik hukum yang sempurna dan menghakimi atas dasar hukum yang sempurna pula (Yohanes 9:39). Walaupun dalam Injil Yohanes 3:17, 5:22, 8:15 menyebutkan bahwa Tuhan Yesus datang bukan sebagai hakim, namun pernyataan ini merupakan sanggahan Tuhan Yesus bahwa Ia tidak seperti para hakim yang tidak menjalankan tanggungjawab yang semestinya menegakkan keadilan. Peran Kristus sebagai hakim, telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama (Yes. 40 : 23;       Yer. 11 : 20) dan tergenapi dalam Perjanjian Baru (Luk. 12 : 14). Sementara bagi orang percaya, tidak diperkenankan untuk menghakimi sesamanya (Mat. 7 : 1).

2.1.1.4.Panggilan Sebagai Raja.

“Melek adalah penyebutan untuk raja menurut bahasa Ibrani. Kata melek ada dalam semua bahasa Semit yang berhubungan dengan bahasa Arab dengan arti memiliki atau dalam bahasa Aram yang artinya menasehati”5.  Berdasarkan keterangan Alkitab bahwa raja pertama bagi Israel diangkat berdasarkan tuntutan dan permintaan dari umat (I Sam. 8 : 4 – 6). Saul adalah orang pertama yang memangku jabatan sebagai raja atas umat Israel. Daud adalah raja kedua setelah Saul. Tanggungjawab sebagai seorang raja yang seharusnya telah ditunjukan oleh Daud. Selama masa kepemimpinannya, ia selalu bertanya dan menemukan jawaban dari Tuhan sebelum bertindak. “Lalu bertanyalah Daud kepada Tuhan. apakah aku akan pergi dan mengalahkan orang Filistin itu? Jawab Tuhan kepada Daud. Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila” (I Sam. 23 : 2). Fungsi sebagai gembala juga dijalankan oleh seorang raja. Raja harus bisa memelihara, memimpin, memberi keputusan dan melindungi umat dari ancaman bahaya musuh. Setiap keputusan raja, akan berdampak pada umat, maka raja yang melandasi setiap keputusannya dengan konsep penggembalaan, akan membawa suatu keteduhan dan kenyamanan bagi umat Tuhan.


1 D. L. Baker & A.A Sitompil, Kamus Singkat Ibrani-Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001) hal. 57.

2 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini II, M-Z, (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1992) Hal. 163.

3  H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002) hal. 80-81.

4 Ensiklopedia Alkitab Masa Kini  I, A-L (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/ OMF, 1992) hal. 353-354.

5  Op. cit. Ensiklopedi AlkitabMasa Kini M-Z. hal 292.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: