PENAMPILAN HT

PENAMPILAN HAMBA TUHAN

Apa artinya sebuah nama? Banyak sekali, karena nama bermakna sebagai berikut:
1.  Mewakili keberadaan apa, siapa, dan bagaimana sesuatu itu. Seseorang sudah dapat memahami dan membayangkan suatu barang, binatang, atau seseorang bila disebut tanpa harus menghadirkannya. Contoh: Presiden Megawati, Bunga Rose, Rusa, dan lain-lain.
2. Menunjukkan ciri tertentu: ciri bunga rose berbeda dengan melati, gajah berbeda dengan harimau.
3.  Memiliki wujud atau bentuk khusus. Wujud atau bentuk orang laki berbeda dengan  wanita. Kue gethuk berbeda dengan tiwul.
4. Membebaskan  seseorang dari kesalahan tafsir atau pemahaman. Seorang pembantu rumah tangga tidak akan keliru mengambil piring dengan mengambil gelas, sendok, atau garpu ketika majikan menyuruh mengambilnya.

Hamba Tuhan, Pendeta, Gembala sidang, penginjil dan guru adalah sebutah-sebutan significan dan istimewa  baik di mata Allah maupun manusia. Oleh sebab itu tindak-tanduk, tutur kata, etika, dan kehidupannya pun harus memancarkan keperibadian dan karakter yang agung dan mempersona. Daya-daya pesona para abdi Allah memancar dan mengalir berdampak luas bagi umat manusia sebab sanggup mengubah, merombak, membangun dan membentuk perilaku, keyakinan religius serta semua hal yang menyangkut kehidupan manusia seutuhnya. Pengaruh semacam ini dapat diketemukan pada sebuah tugu untuk mengenang Dr. Jhon Geddie, yang melayani di Aneityum selama 24 tahun, tertulis:  Ketika ia datang pada tahun 1848, belum ada orang Kristen, ketika ia pergi pada tahun 1872 tidak ada orang kafir.

Daya pesona hamba Tuhan bermuara pada penampilannya yang menarik dan menakjubakan dimana meliputi:

I. Kecerdasan

Pada akhir-akhir ini mulai berkembang ilmu penelitian yang mendalam tentang idnera keenam. Indera keenam disebut juga suara hati, insting, naluri, atau sekarang yang mulai diperkenalkan dengan sebutan spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual. Saat ini pengetahuan manusia membagi kecerdasan dalam tiga macam yaitu kecerdasan intelektuil, atau rational, disebut intelligence Quotient (IQ), kecerdasan emosional atau emotion Quotient (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Dalam kehidupan hamba Tuhan ketiga hal tersebut perlu dikembangkan sebaik-baiknya karena kesatuan dari tiga pokok tersebut akan menghasilkan perkara-perkara besar. Kegunaan dari ketiganya adalah sebagai berikut:

1. IQ. Digunakan untuk memecahkan masalah logika
2. EQ. Berguna untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang lain
3. SQ. berguna untuk memecahkan persoalan makna dan nilai dan menetapkan perilaku atau tindakan seseorang

SQ adalah mediator, motivator, dan berfungsi dari IQ dan EQ. SQ tak dibatasi oleh agama, golongan, atau bidang pendidikan dan keahlian seseorang karena dalam diri seseorang, kecerdasan spiritual ini ada. Setiap hamba Tuhan harus mengembangkan indera keenam pada tataran yang tinggi sehingga mencapai apa yang oleh orang Jawa disebut “weruh sak durunge winarah.”

Perhatikan contoh-contoh dalam Alkitab tentang hal ini:

1. Tuhan Yesus
a. Ia tahu apa yang ada dalam hati manusia (Yohanes 2:25)
b. Ia tahu dari semula siapa yang tak percaya (Yoh. 6:69)
c. Ia tahu bahwa saat-Nya sudah tiba (Yoh. 13:1)

2. Elisa
Tetapi berkatalah salah seorang dari pegawainya: “Tidak tuanku raja, melainkan Elisa, nabi yang di Israel,  dialah yang memberitahukan kepada raja Israel tentang peraktaan yang diucapkan oleh tuanku di kamar tidrumu.” (2 Raja 6:12).

3. Daniel
Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu pengliahatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit. (Daniel 2:19)

4. Petrus
dan ketika Petrus sedang berfikir tentang penglihatan itu, berkatalh Roh: “Ada dua orang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka kemari.    (Kisah Rasul 10:19, 20)

Contoh-contoh di atas harus ditiru oleh setiap hamba Tuhan dalam melaksanakan visi misi ilahi di muka bumi  karena akan memunculkan buah pelayanan yang luar biasa. Cara-cara untuk mencapai tataran seperti itu adalah:
1.  Penuh dengan Roh Kudus sehingga akan memunculkan karunia-karunia Allah sebagaimana yang diungkapkan dalam 1 Kor 12:7-10.
2. Peningkatan dan Pemantapan Rohani

Tetapi makan keras adalah untuk orang-orang dewasa yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (Ibrani 5:14)

II. Penampilan Lahiriah

Daya pesona seorang hamba Tuhan akan memancar keluar dari dalam diri seorang hamba Tuhan yang akan berdampak positif pada pelayanannya terhadap semua orang yang dihadapinya. Didasarkan pada hal tersebut maka banyak hal harus diperhatikan, yaitu:

1. Wajah atau Muka

Wajah atau muka mencerminkan keadaan dan situasi batin seseorang. Namun dapat juga muka dan wajah seseorang  tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Misalnya mukanya yang kekanak-kanakan (baby face) tak selau menunjukan batin orang tersebut seperti anak-anak. Walaupun wajah tak selalu mencerminkan keadaaan dan situasi batin yang sesungguhnya alangkah baiknya apabila muka atau wajah seorang hamba Tuhan dapat menjadi berkat yang besar bagi setiap orang yang ditemuinya. Karena itu berdoalah agar wajah atau raut muka diubah sebagai berikut:

a.  Kulit muka yang bercahaya (kel 34:29; Pengk 8:1)
b.  Kulit muka yang jauh dari kekeringan atau kulit muka yang lembut dan ramah (pengk 8:1; 1 Ptr 3:4) dan pancaran ketenteraman
c.  Kulit muka yang tak memancarkan kemunafikan (mat 6:16),
d.  Kulit muka yang bagaikan terang malaikat (Kis 6:15),
e.  kulit muka yang tak memancarkan kesedihan, muram (Neh 2:1,2)
f.  kulit muka seperti Kristus (2 Kor 3:18)

Perubahan raut muka seseorang dapat diubah sebagaimana tersebut diatas dengan cara sebagai berikut;

a. Berbicaralah dengan Tuhan (Kel 34:29)
b. Bertambah-tambahlah hikmat (Pengk 8:1)
c. Milikilah buah Roh Kudus (Gal. 5:22, 23)
d. Milikilah roh yang lemah lembut dan tenteram ( 1 Ptr 3:4)

2. Busana dan Perhiasan

Perancang dan pembuat pakaian yang pertama adalah Allah. Hal ini diungkapkan oleh Alkitab sebagai berikut: “Dan Tuhan Allah membuat pakaian  dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” (Kejadian 3:21)

Ayat ini membedakan dengan karya Adam dan Hawa yang hanya menyematkan daun pohon ara untuk menutupi auratnya saja. Sedangkan bagian atas kurang diperhatikan. Dengan kata lain allah menolak cawat yang dibuat Adam dan Hawa dan memunculkan pakaian. Berkaitan dengan hal ini maka setiap hamba Tuhan harus memperhatikan pakaiannya sebaik-baiknya. Perhatikan Alkitab menetapkan pakaian seorang hamba Tuhan:

Keluaran 28:3 : Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli, yang telah Kupenuhi dengan roh keahlian, membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagiKu.

Allah ingin pakaian seorang imam memancarkan pesona yang indah mulia dan kudus sehingga Allah memberikan roh keahlian pada para ahli pembuat pakaian seorang imam. Hal ini setiap hamba Tuhan baik laki maupun perempuan haruslah memperhatikan secara seksama busana yang dipakainya. Adapun perhiasan yang dikanakan oleh para hamba Tuhan secara jelas Alkitab melarang orang Kristen bahkan hamba Tuhan mengenakan perhiasan sebagaimana yang dikatakan nabi Yesaya : “Untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan ganti abu (Yesaya 61:3). Namun berkali alkitab menyebutkan supaya umat Tuhan berhiaskan kekudusan (Maz. 29:2; 96:9; 110:3; 1 Taw 16:29) dan hiasan kemegahan dan keluhuran keagungan (Ayub 40:5) dan hiasan batiniah (1 Ptr. 3:4).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: